INDONESIA DI AMBANG DISINTEGRASI: NEGARA BESAR, FONDASI RAPUH

 INDONESIA DI AMBANG DISINTEGRASI: NEGARA BESAR, FONDASI RAPUH

Oleh: Ismail, S.Pd., M.M.

Ketua Pusat Studi LP3M Isra Foundation

Ada paradoks besar yang sedang kita hadapi hari ini. Di satu sisi, Indonesia dipuji sebagai negara demokrasi terbesar di Asia Tenggara dengan pertumbuhan ekonomi yang relatif stabil. Namun di sisi lain, retakan sosial, ketimpangan struktural, dan krisis kepercayaan terhadap institusi justru semakin menganga.Ini bukan sekadar gejala biasa. Ini adalah tanda-tanda awal dari sebuah proses panjang yang bisa berujung pada satu hal yang paling kita takuti: disintegrasi bangsa

Negara yang Kehilangan Arah Moral

Kita menyaksikan bagaimana hukum kerap tumpul ke atas dan tajam ke bawah. Kasus korupsi terus berulang seolah menjadi rutinitas kekuasaan, bukan penyimpangan.

Negara kehilangan otoritas moralnya ketika keadilan hanya menjadi slogan, bukan kenyataan. Dalam kondisi seperti ini, kepercayaan publik runtuh. Dan ketika kepercayaan runtuh, negara sesungguhnya sedang berdiri di atas fondasi yang rapuh.

Pemikiran Émile Durkheim tentang anomie menjadi relevan—ketika norma kehilangan daya ikatnya, masyarakat bergerak tanpa arah, tanpa pegangan.

Ketimpangan: Api dalam Sekam

Pertumbuhan ekonomi sering dipamerkan sebagai prestasi. Namun, siapa yang benar-benar menikmati hasilnya?

Ketimpangan antara pusat dan daerah, antara elite dan rakyat kecil, semakin tajam. Dalam perspektif Pierre Bourdieu, dominasi kelompok elite melalui akumulasi modal telah menciptakan jarak sosial yang hampir tak terjembatani.


Ketika rakyat merasa tidak memiliki akses terhadap keadilan dan kesejahteraan, maka rasa memiliki terhadap negara akan memudar. Dan di situlah benih disintegrasi mulai tumbuh.


Politik Identitas: Senjata yang Memecah Bangsa

Politik hari ini tidak lagi berbicara tentang gagasan, melainkan identitas. Agama, suku, dan kelompok sosial diperalat untuk meraih kekuasaan.

Padahal, sejak Sumpah Pemuda, kita telah sepakat untuk melampaui perbedaan demi satu identitas nasional.

Namun hari ini, semangat itu terkikis. Yang muncul justru fragmentasi—masyarakat terbelah, saling curiga, dan kehilangan rasa persaudaraan.

Dusun yang Terpinggirkan, Suara yang Terabaikan

Tulisan ini tidak hanya lahir dari ruang diskusi akademik, tetapi juga dari denyut kehidupan di dusun-dusun.

Di sana, realitas Indonesia yang sesungguhnya terlihat jelas. Jalan rusak, akses pendidikan terbatas, layanan kesehatan minim, dan ekonomi yang berjalan di tempat.

Masyarakat dusun tidak berbicara tentang geopolitik atau pertumbuhan ekonomi makro. Mereka berbicara tentang bertahan hidup.

Ketika negara terasa jauh, bahkan asing, maka ikatan emosional antara rakyat dan negara perlahan memudar. Dusun menjadi saksi diam bagaimana ketimpangan melahirkan keterasingan.

Dalam perspektif Herbert Blumer, makna tentang “negara” dibentuk dari pengalaman sehari-hari. Jika negara tidak hadir dalam kehidupan rakyat kecil, maka negara kehilangan maknanya.

Kita Sedang Diuji, Bukan Aman

Indonesia memang belum runtuh. Namun mengatakan bahwa semuanya baik-baik saja adalah bentuk kebutaan kolektif.

Disintegrasi bukan peristiwa tiba-tiba. Ia adalah akumulasi dari pembiaran—ketidakadilan yang dibiarkan, ketimpangan yang diabaikan, dan konflik yang tidak diselesaikan.

Seruan: Kembali ke Jalan Kebangsaan

Sudah saatnya negara kembali kepada esensi dasarnya: melindungi seluruh rakyat, bukan melayani segelintir elite. Pemerintah harus berani melakukan koreksi mendasar:


* Menegakkan hukum tanpa pandang bulu

* Mengurangi ketimpangan secara nyata, bukan retorika

* Menghentikan eksploitasi politik identitas

* Menghadirkan negara hingga ke dusun-dusun


Penutup: Jangan Tunggu Terlambat


Sejarah mengajarkan bahwa bangsa besar bisa runtuh bukan karena serangan dari luar, tetapi karena keretakan dari dalam. 

Indonesia hari ini berada di persimpangan jalannya

Apakah kita akan memperbaiki retakan itu, atau justru membiarkannya melebar hingga tak lagi bisa disatukan?

Pilihan itu ada di tangan kita—sekarang, bukan nanti.

Komentar