Iran vs Amerika–Israel: Retaknya Hegemoni dan Ilusi Stabilitas Global oleh: Ismail, Ketua Pusat Studi Sosial Ekonomi Isra Foundation

Iran vs Amerika–Israel: Retaknya Hegemoni dan Ilusi Stabilitas Global 

oleh: Ismail, Ketua Pusat Studi Sosial Ekonomi Isra Foundation


Tidak ada hegemoni yang runtuh dalam diam. Ia selalu retak melalui konflik—kadang jauh dari pusat kekuasaan, tetapi dampaknya mengguncang seluruh sistem. Perang antara Iran melawan Amerika Serikat dan Israel pada 2026 adalah salah satu retakan itu: tidak spektakuler dalam kemenangan, tetapi signifikan dalam makna geopolitiknya.

Konflik ini menguji satu asumsi lama dalam hubungan internasional: bahwa dominasi militer Amerika identik dengan kemampuan mengendalikan hasil politik global. Asumsi ini kini mulai tampak usang.

Dalam tradisi realisme klasik, sebagaimana ditegaskan oleh Hans Morgenthau (1948), politik internasional adalah perjuangan kekuasaan (struggle for power). Negara bertindak rasional untuk mempertahankan eksistensinya dalam sistem anarkis. Dalam kerangka ini, konflik Iran bukanlah penyimpangan, melainkan keniscayaan.

Namun realisme kontemporer, khususnya neorealisme ala Kenneth Waltz (1979), menekankan bahwa struktur sistem—bukan sekadar niat negara—yang menentukan perilaku. Ketika sistem berubah, perilaku pun ikut berubah.

Masalahnya, Amerika tampak masih bertindak seolah sistem internasional tetap unipolar, Padahal, fakta di lapangan menunjukkan sebaliknya.

Iran, meski bukan kekuatan global, berhasil mempertahankan daya tawar strategis melalui pendekatan  asymmetric warfare. Ini sejalan dengan argumen bahwa negara yang lebih lemah dapat mengimbangi kekuatan besar melalui strategi non-konvensional (Arreguín-Toft, 2005).

Dengan kata lain, keunggulan militer tidak lagi menjamin dominasi strategis.

Teori transisi kekuasaan dari A.F.K. Organski (1958) menyatakan bahwa konflik besar muncul ketika kekuatan dominan menghadapi tantangan dari aktor yang sedang naik.

Iran mungkin bukan rising power dalam arti ekonomi global seperti China. Namun dalam konteks regional, ia jelas merupakan /revisi  actor—aktor yang tidak puas dengan status quo.

Ketika aktor semacam ini bertemu dengan hegemon yang berusaha mempertahankan dominasi, konflik menjadi hampir tak terhindarkan (Tammen et al., 2000)

Yang menarik, konflik ini tidak menghasilkan kemenangan mutlak bagi Amerika maupun kekalahan total bagi Iran. Ini justru menandakan fase transisi:ketika hegemon masih kuat, tetapi tidak lagi menentukan segalanya.Konsep multipolaritas mengasumsikan distribusi kekuatan yang lebih tersebar. Tidak ada satu aktor yang mampu mendikte sistem secara sepihak.Dalam konteks ini, perang Iran menunjukkan bahwa:

1. Amerika tidak bisa bertindak tanpa mempertimbangkan reaksi global

2. Rusia dan China memiliki kepentingan yang membatasi ruang gerak Barat

3. Aktor regional seperti Iran mampu mengganggu keseimbangan

Sebagaimana dikemukakan oleh John Mearsheimer (2001), dalam sistem anarkis, negara akan terus mencari peluang untuk meningkatkan kekuatannya relatif terhadap yang lain.

Namun dalam sistem multipolar, upaya ini justru menciptakan ketidakpastian yang lebih tinggi.

Artinya, dunia hari ini bukan hanya lebih kompetitif—tetapi juga lebih sulit diprediksi.

Hegemoni tidak hanya soal kekuatan militer, tetapi juga legitimasi. Dalam kerangka hegemonic stability theory, stabilitas global bergantung pada kemampuan hegemon menyediakan “barang publik internasional” seperti keamanan dan keteraturan (Keohane, 1984).

Masalahnya, intervensi yang berulang tanpa hasil yang jelas justru menggerus legitimasi tersebut.Perang Iran memperlihatkan paradoks:

a. Amerika mampu menyerang

b. tetapi tidak mampu menyelesaikan

c. mampu menghancurkan

d. tetapi tidak mampu mengendalikan

Ini bukan kekalahan militer. Ini adalah defisit strategis.

Dan dalam jangka panjang, defisit strategis jauh lebih berbahaya daripada kekalahan taktis.

Keberhasilan Iran bertahan tidak terlepas dari strategi asimetris: penggunaan proksi, kontrol jalur energi, hingga perang non-konvensional.

Dalam studi konflik modern, strategi ini terbukti efektif dalam menghadapi kekuatan superior (Arreguín-Toft, 2005). Bahkan, aktor yang lebih lemah sering kali memenangkan konflik politik meskipun kalah secara militer.Ini mengubah logika perang:dari siapa yang paling kuat menjadi siapa yang paling tahan.

Perang Iran vs Amerika–Israel bukanlah titik akhir dominasi Barat. Namun ia adalah indikator penting bahwa tatanan lama sedang mengalami erosi. Realisme menjelaskan konflik ini sebagai konsekuensi dari perebutan kekuasaan.Teori transisi kekuasaan melihatnya sebagai gejala perubahan struktur global.Sementara konsep multipolaritas menunjukkan arah masa depan: dunia tanpa satu pusat kendali.

Pertanyaannya bukan lagi apakah hegemoni Amerika akan berakhir.Tetapi seberapa cepat dunia mampu beradaptasi dengan ketiadaan hegemon yang absolut.Karena dalam sejarah, kekosongan kekuasaan tidak pernah benar-benar kosong.Ia selalu diisi—sering kali dengan cara yang lebih kacau.


Referensi 

Arreguín-Toft, I. (2005). How the weak win wars: A theory of asymmetric conflict. Cambridge University Press.

Keohane, R. O. (1984). After hegemony: Cooperation and discord in the world political economy. Princeton University Press.

Mearsheimer, J. J. (2001). The tragedy of great power politics. W. W. Norton & Company.

Morgenthau, H. J. (1948). Politics among nations: The struggle for power and peace. Knopf.

Organski, A. F. K. (1958). World politics*. Knopf.

Tammen, R. L., Kugler, J., Lemke, D., Stam, A. C., Abdollahian, M., Alsharabati, C., Efird, B., & Organski, A. F. K. (2000). Power transitions: Strategies for the 21st century. Chatham House.

Waltz, K. N. (1979). Theory of international politics. Addison-Wesley.

Komentar