Ambruknya Bursa dan Ketahanan Fundamental Ekonomi Nasional
Ambruknya Bursa dan Ketahanan Fundamental Ekonomi Nasional
Oleh: Ismail Ahmad, S.Pd., M.M.
Gejolak yang melanda Bursa Efek Jakarta (BEJ) dalam beberapa waktu terakhir menimbulkan kekhawatiran luas di tengah masyarakat. Pelemahan indeks, meningkatnya volatilitas, serta keluarnya sebagian modal asing menjadi penanda bahwa pasar tengah membaca risiko yang lebih besar terhadap perekonomian nasional. Pertanyaannya, sejauh mana kondisi ini mencerminkan kekuatan fundamental makro ekonomi Indonesia?
Secara makro, Indonesia masih menunjukkan indikator yang relatif terjaga. Pertumbuhan ekonomi tetap positif, inflasi berada dalam rentang target, dan rasio utang pemerintah masih tergolong aman. Namun, pasar modal tidak hanya merespons data statistik, melainkan juga ekspektasi atas arah kebijakan dan kepastian jangka menengah.
Bursa saham pada hakikatnya adalah cermin kepercayaan. Ketika kepercayaan melemah, pasar bereaksi lebih cepat dibanding sektor riil. Dalam konteks ini, tekanan global—seperti ketidakpastian geopolitik dan kebijakan moneter ketat di negara maju—memang berperan. Akan tetapi, faktor domestik tidak dapat diabaikan.
Inkonsistensi kebijakan, lemahnya komunikasi ekonomi, serta ketidakjelasan prioritas fiskal jangka menengah berkontribusi membentuk persepsi risiko. Pasar membutuhkan kejelasan arah pembangunan, bukan sekadar optimisme normatif.
Pelemahan bursa juga berdampak pada pembiayaan ekonomi nasional. Ketika pasar modal melemah, pilihan pendanaan pembangunan semakin terbatas dan negara berpotensi kembali bergantung pada instrumen utang. Dalam jangka panjang, hal ini dapat mempersempit ruang fiskal.
Karena itu, menjaga stabilitas bursa bukan semata soal menyelamatkan investor, melainkan menjaga keberlanjutan ekonomi nasional. Konsistensi kebijakan, transparansi, serta penguatan kelembagaan ekonomi menjadi prasyarat utama agar fundamental makro yang ada benar-benar dipercaya pasar.
Komentar