Analisis Geologi dan Kerentanan Bencana IKN dalam Perspektif Teori Tektonik dan Risk Society

Analisis Geologi dan Kerentanan Bencana IKN dalam Perspektif Teori Tektonik dan Risk Society 

Oleh Ismail SPd. MM ( Ketua Pusat Studi LP3M Isra Foundation) 

Abstrak

Pemindahan Ibukota Negara (IKN) ke Kalimantan Timur merupakan keputusan strategis yang didasarkan pada pertimbangan geologi, geopolitik, dan keberlanjutan pembangunan. Secara geotektonik, wilayah IKN berada pada zona Paparan Sunda yang relatif stabil dibandingkan wilayah Indonesia bagian barat dan timur yang berada pada jalur cincin api. Namun, stabilitas geologi tidak serta merta meniadakan kerentanan bencana. Dengan menggunakan perspektif Teori Tektonik Lempeng dan konsep Risk Society (Ulrich Beck), artikel ini menganalisis bahwa risiko IKN tidak hanya berasal dari faktor alamiah, tetapi juga dari proses pembangunan, tata kelola lingkungan, dan ekspansi urbanisasi. Studi ini menyimpulkan bahwa IKN secara tektonik tergolong aman, namun tetap memiliki kerentanan terhadap bencana ekologis dan risiko pembangunan modern.

Kata kunci: IKN, geologi, tektonik lempeng, risk society, kerentanan bencana.

1. Pendahuluan

Pemilihan Kalimantan Timur sebagai lokasi Ibu Kota Nusantara didasarkan pada argumentasi geologi yang kuat, yakni stabilitas tektonik dan minim risiko bencana besar seperti gempa bumi, tsunami, dan letusan gunung api. Dalam konteks negara kepulauan yang berada di pertemuan tiga lempeng besar dunia, pemilihan lokasi ibu kota baru memerlukan analisis geologi komprehensif.

Namun dalam perspektif modern, risiko bencana tidak lagi semata ditentukan faktor alam. Ulrich Beck (1992) melalui teori Risk Society menyatakan bahwa masyarakat modern justru memproduksi risiko baru melalui industrialisasi, urbanisasi, dan kebijakan pembangunan. Oleh karena itu, analisis geologi IKN perlu dipadukan dengan pendekatan sosial dan politik risiko.

2. Perspektif Teori Tektonik Lempeng

Teori Tektonik Lempeng yang dikembangkan dari gagasan continental drift Alfred Wegener (1912) dan disempurnakan oleh Harry Hess serta J. Tuzo Wilson menjelaskan bahwa aktivitas gempa dan vulkanisme terjadi di batas pertemuan lempeng.

Indonesia berada di pertemuan:

a. Lempeng Indo-Australia

b. Lempeng Eurasia

c. Lempeng Pasifik

Namun Kalimantan memiliki posisi geologis berbeda. Secara tektonik, wilayah ini termasuk bagian Paparan Sunda yang stabil dan jauh dari zona subduksi aktif.

Implikasi terhadap IKN:

1. Risiko gempa besar relatif rendah.

2. Tidak terdapat gunung api aktif.

3. Tidak berada pada zona tsunami.

Data seismotektonik menunjukkan intensitas gempa di Kalimantan Timur jauh lebih kecil dibanding Sumatera, Jawa, dan Sulawesi. Dalam kerangka teori tektonik, IKN termasuk wilayah dengan hazard tektonik rendah dalam skala Indonesia.

3. Kondisi Geologi Lokal dan Geomorfologi

Meskipun stabil secara tektonik, kondisi geologi lokal IKN didominasi:

a. Batuan sedimen Tersier.

b. Tanah laterit tropis.

c. Struktur perbukitan landai–bergelombang.

Karakter ini menunjukkan bahwa kerentanan utama bukan berasal dari gempa besar, melainkan dari proses geomorfologi tropis seperti:


1.Erosi

2. Longsor

3. Banjir permukaan

Curah hujan tinggi di Kalimantan Timur (>2.500 mm/tahun) meningkatkan potensi instabilitas lereng jika terjadi pembukaan lahan besar-besaran. Dalam perspektif geomorfologi modern, stabilitas lahan sangat dipengaruhi oleh intervensi manusia terhadap tutupan vegetasi dan sistem hidrologi.

4. Perspektif *Risk Society* (Ulrich Beck) 

Ulrich Beck dalam Risk Society* (1992) menyatakan bahwa masyarakat modern menciptakan risiko baru melalui modernisasi itu sendiri. Risiko tidak lagi hanya berasal dari alam, tetapi dari keputusan politik, teknologi, dan ekonomi.

Dalam konteks IKN, terdapat beberapa bentuk risiko modern:

 a. Risiko Ekologis Pembangunan

Pembangunan ibu kota skala besar berpotensi:

 a. Meningkatkan deforestasi.

b. Mengganggu sistem hidrologi.

c. Mempercepat degradasi tanah.

Jika tidak dikontrol, risiko banjir dan longsor dapat meningkat meskipun secara tektonik aman.

 b. Risiko Urbanisasi Cepat

Pertumbuhan populasi dan infrastruktur besar:

1.Menambah tekanan terhadap air tanah.

2.Memicu penurunan tanah lokal.

3.Meningkatkan risiko banjir perkotaan.


 C Risiko Kebakaran Hutan dan Lahan

Kalimantan memiliki sejarah kebakaran hutan dan lahan gambut. Urbanisasi dan aktivitas ekonomi berpotensi meningkatkan risiko kebakaran yang berdampak pada kualitas udara dan kesehatan publik.

Dalam kerangka Risk Society, IKN bukan hanya menghadapi natural hazard, tetapi juga manufactured risk (risiko hasil pembangunan).

5. Analisis Kerentanan Bencana IKN

Menggunakan formula UNDRR:

Risk = Hazard × Vulnerability × Exposure

Hazard (Ancaman Alam)

1.Gempa: rendah

2.Tsunami: sangat rendah

3. Gunung api: tidak ada

4.Longsor: lokal

5.Banjir: menengah

 Vulnerability (Kerentanan)

a. Pembukaan hutan

b. Perubahan tata air

c. Konstruksi masif

dPengelolaan lingkungan

 Exposure (Paparan)

a. Konsentrasi penduduk baru

b. Infrastruktur Nasional

 c. Pusat pemerintahan

Hasil analisis menunjukkan bahwa risiko IKN lebih banyak ditentukan oleh faktor kerentanan dan paparan daripada ancaman geologi primer.

6. Diskusi: Stabil Secara Tektonik, Rawan Secara Sistemik

IKN dapat dikategorikan sebagai wilayah:

> aman secara geologi klasik, namun potensial rawan secara ekologis dan sistemik.

Dalam perspektif teori tektonik, pemilihan Kalimantan Timur tepat karena meminimalkan risiko gempa dan tsunami. Namun dalam perspektif Risk Society, pembangunan besar dapat menciptakan risiko baru yang bersifat struktural.

Keberhasilan IKN sebagai ibu kota masa depan sangat bergantung pada:

a. Disiplin tata ruang 

b. Infrastruktur hijau.

c. manajemen air terpadu

d. Kebijakan lingkungan berkelanjutan.

7. Kesimpulan

Analisis geologi menunjukkan bahwa lokasi IKN di Kalimantan Timur memiliki stabilitas tektonik tinggi dan risiko gempa serta tsunami yang rendah. Hal ini sejalan dengan Teori Tektonik Lempeng yang menempatkan Kalimantan di zona interior lempeng relatif stabil.

Namun melalui perspektif Risk Society, kerentanan IKN tidak hanya ditentukan faktor alam, melainkan juga proses pembangunan dan kebijakan manusia. Risiko ekologis seperti banjir, longsor, dan kebakaran hutan berpotensi meningkat jika urbanisasi tidak dikelola secara berkelanjutan.

Dengan demikian, IKN merupakan wilayah:

> relatif aman secara geologi, tetapi memerlukan tata kelola risiko modern yang ketat agar tidak menciptakan bencana baru di masa depan.

Daftar Pustaka 

1. Beck, U. (1992). Risk Society: Towards a New Modernity*. London: Sage Publications.

2. Hamilton, W. (1979). Tectonics of the Indonesian Region. USGS Professional Paper.

3. Alexander, D. (1993). Natural Disasters. London: UCL Press.

4.UNDRR. (2015). *Global Assessment Report on Disaster Risk Reduction*. United Nations.

5.Hall, R. (2012). Late Jurassic–Cenozoic reconstructions of the Indonesian region*. Tectonophysics.

Komentar