Sekulerisme dan Liberasi dalam Komunikasi Rohani
Sekulerisme dan Liberasi dalam Komunikasi Rohani
Menurut pandangan Ismail Ahmad, Ketua LP3M Al Isra
Dalam dinamika masyarakat modern, sekulerisme dan liberasi sering diposisikan sebagai dua kutub yang berseberangan dengan spiritualitas. Namun dalam pandangan Ismail Ahmad, keduanya justru dapat menjadi ruang reflektif bagi lahirnya komunikasi rohani yang lebih jernih, rasional, dan membebaskan.
Sekulerisme: Rasionalitas dalam Ruang Spiritualitas
Sekulerisme dalam konteks komunikasi rohani tidak dimaknai sebagai penolakan terhadap agama, melainkan sebagai upaya memisahkan kepentingan kekuasaan duniawi dari nilai-nilai spiritual. Ismail Ahmad memandang bahwa sekulerisme dapat menjadi instrumen penyucian agama dari politisasi dan manipulasi kepentingan.
Dalam perspektif ini, komunikasi rohani harus bebas dari dominasi kekuasaan politik, ekonomi, dan ideologi sempit. Spiritualitas yang sehat lahir dari kesadaran individual dan kolektif yang murni, bukan dari tekanan struktur sosial atau kekuasaan negara.
Sekulerisme, dengan demikian, membuka ruang bagi agama untuk kembali ke esensi: membangun kesadaran moral, kejujuran batin, dan tanggung jawab sosial tanpa intervensi kepentingan pragmatis.
Liberasi: Pembebasan Kesadaran Rohani
Liberasi dalam komunikasi rohani menurut Ismail Ahmad adalah proses pembebasan manusia dari belenggu dogma kaku, manipulasi simbol agama, dan ketakutan teologis yang menghambat pertumbuhan kesadaran.
Liberasi bukan berarti menolak ajaran agama, melainkan menghidupkan kembali nilai-nilai universal seperti keadilan, kasih sayang, dan kejujuran. Dalam komunikasi rohani yang liberatif, manusia diajak berdialog dengan Tuhan secara sadar, bukan sekadar ritual formal.
Liberasi juga berarti membebaskan agama dari monopoli tafsir. Komunikasi rohani harus bersifat dialogis, terbuka terhadap pemaknaan baru yang relevan dengan konteks zaman, tanpa kehilangan akar spiritualitasnya.
Komunikasi Rohani sebagai Ruang Dialektika
Ismail Ahmad menekankan bahwa komunikasi rohani di era modern harus mampu berdialektika dengan realitas sekuler dan semangat liberasi. Spiritualitas tidak boleh terasing dari kehidupan sosial, tetapi harus hadir sebagai kekuatan etis yang membimbing masyarakat.
Dalam kerangka ini, sekulerisme memberikan ruang netral bagi keberagaman keyakinan, sementara liberasi memastikan bahwa spiritualitas tetap hidup dan membebaskan. Keduanya bertemu dalam komunikasi rohani yang rasional, humanis, dan transenden.
Penutup
Sekulerisme dan liberasi dalam komunikasi rohani bukan ancaman bagi agama, melainkan peluang untuk memperdalam makna spiritualitas. Menurut Ismail Ahmad, spiritualitas yang matang adalah spiritualitas yang mampu berdiri di tengah dunia modern tanpa kehilangan nilai transendennya.
Komunikasi rohani yang sehat akan melahirkan manusia yang merdeka secara batin, rasional dalam berpikir, dan bijaksana dalam bertindak. Di situlah sekulerisme dan liberasi menemukan titik temu: membangun peradaban yang berakar pada nilai spiritual sekaligus terbuka terhadap kemanusiaan universal.
Komentar